Belajar

Biasakanlah membaca buku dimanapun kita berada, membaca sangatlah menyenangkan kawan, try it now!.

Diskusi dalam pembelajaran.

Jadikanlah pembelajaran menarik layaknya anak kecil yang bermain.

Taman Pintar Yogyakarta

Salah satu tempat belajar anak di DIY.

World Class University

Universitas Negeri Yogyakarta.

Tampilkan postingan dengan label Belajar Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2012

Penerapan Teori Kerja Otak (Neuroscience) Dalam Pembelajaran



 Penerapan Teori Kerja Otak (Neuroscience) Dalam Pembelajaran

Otak manusia anugerah luar biasa. Albert Einstein adalah orang yang mampu memaksimalkan fungsi otak kanan dan kiri dengan optimal. Sukses ilmuwan bukan saja hanya mengandalkan rasional, logika, dan kerja maksimal otak kiri mereka. Tapi otak kanan jua berandil banyak dalam besar dan suksesnya mereka.
Selama ini kita beranggapan bahwa otak kiri adalah otak yang bersifat logika, dan otak kanan berkaitan erat dengan kreativitas. Hasil penelitian terakhir membuktikan bahwa pandangan ini salah. Otak kiri dapat menjadi otak yang kreatif. Hal ini dibukttikan dengan hasil karya Dr. Edward De bono yang mencetuskan Lateral Thinking (Berfikir Lateral) pada tahun 1970.
Pandangan umum lainnya yang ada di masyarakat kita, yaitu musisi atau seniman adalah orang yang dominan menggunakan otak kanannya, ternyata juga kurang tepat. Seniman atau pelukis dalam melakukan kegiatan melukis ternyata juga banyak melibatkan otak kiri mereka. Memang benar bahwa ide-ide kreatif mereka berasal dari otak kanan, tapi dalam memilih warna, melukis bentuk gambar yang simetris, mencampur warna, dan memilih bahan baku lainnya, ternyata mereka mengikuti suatu urutan logika di mana itu semua merupakan kegiatan otak kiri.
Hasil penelitian terakhir dengan menggunakan teknologi pemindai PET (positron emission tomography) menunjukkan bahwa bila seseorang merasa tertekan atau stres, maka yang akan lebih aktif adalah otak kanannya. Sedangkan bila seseorang merasa gembira dan optimis akan masa depan dan hidupnya, maka otak kiri akan lebih aktif.
Jika para siswa diajari cara efektif untuk memproses perasaan atau kejadian-kejadian yang negative, maka waktu belajarnya akan dapat dioptimalkan. Optimisme akan timbul bila kita menguasai cara penyelesaian masalah dan juga bila kita mengalami suatu rasa diterima dan dicintai. Oleh sebab itu, gunakan dan ajarkan teknik visualisasi dan penetapan tujuan (goal-setting), scenario penyelesaian masalah, studi kasus, dan mengerjakan latihan yang membutuhkn pemikiran logis, brain-storming, dan mind-mapping (pemetaan pikiran).
Jika dilihat dari sisi pendidikan, kebanyakan sistem pendidikan di dunia lebih menjurus kepada aliran pemikiran otak kiri. Para pelajar di seluruh dunia dilatih untuk membuat keputusan dan melakukan tindakan berdasarkan logika, rasional. Ringkasnya, corak pemikiran otak kiri imaginasi menyokong logik dan rasional, sedangkan dalam gaya pemikiran otak kanan, logik dan rasional akan menyokong imaginasi. Para pelajar tidak bebas berfikir dan tidak mampu dan tidak berani melahirkan ide-ide baru apalagi ide-ide yang amat bertentangan oleh individu-individu yang berfikiran konvensional.
Prestasi belajar di sekolah peserta didik sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan sukses terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat. Pada permulaan tahun sembilan puluhan berbagai penelitian menunjukkan bahwa diinspirasi oleh berbagai psikolog humanis seperti Maslow, Rollo May, Carl Rogers yang sangat memperhatikan segi-segi subyektif (perasaan) dalam perkembangan psikolog, eksplorasi tentang emosi telah menunjuk pada sumber-sumber emosi. Ternyata bahwa emosi selain mengandung perasaan yang dihayati seseorang, juga mengandung kemampuan mengetahui (menyadari) tentang perasaan yang dihayati dan kemampuan bertindak terhadap perasaan itu. Bahkan pada hakekatnya emosi itu adalah impuls untuk bertindak.
Goleman menyatakan bahwa selain rational mind, seorang memiliki emotional main yang masing-masing diukur oleh IQ dan EQ dan bersumber masing-masing dari head dan heart. Kedua kehidupan mental tersebut, meskipun berfungsi dengan cara-caranya sendiri, bekerja secara sinergis dan harmonis.
Proses pembelajaran sangat terkait dengan kerja otak kanan dan kiri. Cara yang sangat baik untuk menghormati keunikan otak dan perbedaan anak adalah dengan mempertimbangkan gaya pembelajaran. Ada banyak gaya pembelajaran yang tersedia sekarang ini. Masing-masing memiliki poin-poin yang kuat. Semuanya memiliki perbedaan dari hal proses input, filter kognitif, pemrosesan, dan gaya respon. Seluruh pemikiran tentang gaya pembelajaran menjadi tidak relevan ketika kita mempertimbangkan tentang seberapa banyak perbedaan yang berkembang dalam otak.
Setiap otak manusia berkembang secara unik. Bahkan otak dari orang kembar identik pun berbeda. Hal yang paling menakjubkan adalah bahwa kita semua secara virtual memiliki DNA yang sama dalam kurang lebih 99.5% bagian tubuh kita. Akan tetapi, angka 0.5% yang unik membuat kita menjadi berbeda. Salah satu sasaran dari lingkungan pembelajaran yang berbasis kemampuan otak adalah untuk mengenali fakta ini dan memperhitungkannya. Kita dapat melakukan ini dengan cara:
1.      Menghormati dan mendukung perbedaan yang ada diantara para pembelajar.

2.      Memperhatikan karakteristik gaya pembelajaran
Otak manusia tidak memiliki preferensi atau “gaya pembelajaran” tunggal. Kita jauh lebih kompleks daripada ini. Apa yang barangkali lebih instruktif daripada masalah mempertimbangkan model-model gaya pembelajaran individual adalah mempertimbangkan beberapa karakteristik umum dari semua model tersebut.
Empat kategori berikut ini mencakup pandangan realistik dan global terhadap gaya pembelajaran yang dapat digunakan pada rancangan pembalajaran apapun :
1.    Konteks
Keadaan yang melingkupi pembelajaran memberikan petunjuk-petunjuk yang penting tentang apa yang akan terjadi selama pembelajaran. Misalnya, bagaimana perasaan para pembelajar tentang lingkungan pembelajaran, kondisi sosial dan tingkat kesulitan kontennya?

2.    Input
Para pembelajar menuntut adanya sensori input untuk terjadinya pembelajaran apapun. Oleh karena kita mempunyai lima indra, maka input ini bisa berupa visual, audio, kenestetik, penciuman, dan perasa.
Pada suatu waktu seorang pembelajar mungkin lebih memilih input eksternal (yang berasal dari sumber dari luar) dan pada waktu berikutnya akan lebih memilih input internal (yang diciptakan dalam pikiran)
Robert Samples, pengarang buku Open Mind/Whole Mind(1987) mangatakan bahwa pengindraan tambahan kita yang meliputi vestibular(gerakan berulang), magnetik(orientasi feromagnetik), ionik(pengisian elektrostatik atmospheric), geogravimetrik(merasakan perbedaan massa), dan proksimal(kedekatan fisik).
3.    Pemrosesan
Tahap dimana para pembelajar memanipulasi data yang dikumpulkan melalui indra, baik yang didapat dari lingkungan yang bersifat global maupun analitis,konkret maupun abstrak, serta multi-tugas maupun tugas-tunggal.
4.    Respons
Saat para pembelajar mulai memproses informasi, respon mereka secara intuitif didasarkan pada sejumlah faktor, seperti waktu, penilaian risiko, poin referensi internal atau eksternal, dan kekhasan personal
Selain memperhatikan empat kategori pembelajaran di atas, juga bisa dilihat dari variable-variabel konteks yaitu:
a)      Tergantung pada lingkungan
Pembelajaran disampaikan di dalam alam seperti kunjungan lapangan, eksperimen, dan situasi-situasi nyata. Pelajar seperti ini, mungkin merujuk pada “pintar di jalan”. Mereka suka menyerap lingkungannya dengan berinteraksi dengannya, beroksplorasi, menyentuh, dan mengobservasi.

b)      Tidak Tergantung Lingkungan
Pembelajar gaya ini dapat menemukan makna dalam konteks-konteks “artifisial”. Mereka cukup mampu balajar dengan komputer, buku bacaan, video, tape dan buku-buku lainnya.
c)      Fleksibel dengan Lingkungan
Pembelajar gaya ini dapat belajar dengan baik dalam berbagai kondisi lingkungan. Variabel-variabelnya meliputi: pencahayaan, musik, temperatur, rancangan furnitur, pengaturan tempat duduk, tingkat kebisingan, tingkat struktur, dan orang.
d)     Lingkungan yang Terstruktur
Pembelajar gaya ini lebih memilih lingkungan yang lebih terstuktur. Mereka membutuhkan kepastian dan struktur yang lebih besar. Menekankan pada peraturan, kenyamanan dan otoritas.
e)      Independen
Pembelajar gaya ini lebih memilih belajar sendiri.
f)       Dependen
Pembelajar gaya ini lebih memilih membantu yang lain belajar dan bisa belajar sendiri dengan baik.
g)      Digerakkan oleh Hubungan
Pembelajar gaya ini merasa perlu menyukai penyampai pelajarannya. Siapa yang menyampaikan informasi lebih penting daripada apa yang disampaikan.
h)      Digerakkan oleh Muatan
Pembelajar gaya ini lebih memilih konten yang bernilai.  Apa  yang disampaikan lebih penting daripada siapa yang menyampaikannya.
Selain karakteristik gaya pembelajaran tersebut di atas, masih banyak yang lainnya. Masing-masing memiliki poin-poin yang kuat.


3.      Lebih mengaktifkan otak
Inteligensia sebagian besar adalah kemampuan menyatukan potongan- potongan informasi yang acak untuk menginformasikan proses berfikir, menyelesaikan masalah, dan analisis. Ketika para pembelajar diberikan lebih banyak umpan balik yang konsisten dan yang berkualitas lebih baik, mereka akan lebih mampu menyatukan potongan- potongan teka-teki pembelajaran dan mengintegrasikan informasi tersebut ke dalam hubungan dan pola yang lebih baik.
Tips pengayaan bagi guru:
a.       Berikan salam pada pembelajar di depan pintu.
b.      Seringlah memberi komentar mengenai pembelajaran sebelumnya.
c.       Doronglah pengajaran oleh dan interaksi dengan teman.
d.      Berikanlah tinjauan ulang harian dan mengguan (dilakukan oleh diri sendiri, guru, atau teman).
e.       Buatlah agar para pembelajar berbicara dengan sendirinya melalui proses berpikir mereka (dengan keras).
f.       Buatlah agar tim menyimpan diagram kemajuan kelompok mereka dan pajanglah hasilnya.
g.      Doronglah para siswa untuk membuat jurnal pembelajaran.
h.      Berikan “ujian percobaan” yang tidak akan dimasukkan kedalam skala penilaian.
i.        Buatlah agar para siswa bekerja berpasangan untuk persiapan ujian pelajaran.
j.        Buatlah agar para siswa mengoreksi PR mereka, kuis, ujian dsb., milik mereka sendiri.
k.      Buatlah agar para siswa melakukan presentasi kelompok, yang mereka dapat langsung menerima umpan balik kelompok.

4.      Musik dan Pembelajaran
Music sebenarnya dapat memperbaiki jalur-jalur neural otak. Peneliti Frances rauscher, Ph. D., berpendapat (1997) bahwa pola-pola penyalaan neural pada dasarnya adalah sama pada apresiasi music dan berfikir abstrak. Para siswa yang mendengarkan musik klasik selama sepuluh menit (sonata Mozart dengan dua piano pada D Mayor) menunjukkan skor nilai ujian mereka dalam berfikir spasial dan abstrak. Meskipun pada otak hanya bersifat sementara (5-15 menit) hasilnya dapat digandakan dengan menambahkan reaktivasinya kapan saja.
Kebijaksanaan adalah sesuatu yang penting ketika kita menginterpretasikan dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitian ini. Ada waktu yang tepat bagi musikdalam proses pembelajaran, sama seperti ada waktu yang tepat untuk tenang.

5.      Sekolah sebagai komunitas pembelajar
Bagi anda menciptakan sebuah lingkungan yang berbasis kemampuan otak bagi pembelajar Anda, berarti itu saatnya mencari dukungan dari komunitas yang lebih besar, sekolah. Dukungan dalam tingkat yang lebih luar akan membentuk fondasi bagi kesuksesan jangka panjang di tingkat yang lebih kecil; oleh sebab itu, carilah bantuan dari komunitas pembelajaran yang lebih besar untuk mencapai sasaran-sasaran berikut ini:
a.       Menghargai Nilai
Pastikan bahwa semua orang merasa bahwa mereka adalah anggota komunitas yang mempunyai kontribusi. Jika tidak, maka mereka akan cenderung terpancing untuk mengganggu system tersebut, dan atau merasa tidak layak atau depresi.
b.      Semua Orang Merasa Dipedulikan
Pastikan bahwa tak seorang pun yang merasa jatuh ke jurang. Semua orang harus menjadi bagian dari kelompok pertemanan, bagian dari komite, atau terlibat dalam suatu cara tertentu bersama dengan kru pendukung.
c.       Kebebasan Berekspresi
Pastikan bahwa setiap orang memiliki suara kreatif dalam komunitas.
Sama seperti organ tubuh lainnya, otak membutuhkan istirahat yang cukup untuk bisa beroperasi secara optimal. Itulah sebabnya pelajar yang menggunakan cara SKS (system kebut semalam) tidak akan bisa mencapai hasil pembelajarn yng maksimal. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan kondisi otak yang sangat lelah. Untuk berfikir kita harus menggunakan otak neo cortex. Saat lelah dan tegang, otak yang aktif adalah otak reptile. Itulah sebabnya informasi yang telah dipaksakan untuk dipelajari pada malam sebelum ujian tidak dapat atau sulit sekali untuk diingat kembali saat mengerjakan ujian.
Pada waktu tidur, akan terjadi REM (Rapid Eye Movement). Pada saat inilah semua informasi yang telah dipelajari selama satu hari akan diatur di dalam otak dan memori kita. Informasi ini akan diambil dari memori jangka pendek dan dipindahkan ke memori jangka panjang. Rata-rata bayi atau anak kecil mempunyai waktu REM 45%-60% dari waktu tidur mereka. Sedangkan orng dewasa hanya sekitar 20% saja.
Otak kita tidak dapat dipaksa untuk melakukan focus dalam waktu yang lama. Untuk mudahnya kita dapat menggunakan patokan usia. Usia ini kita anggap menit dengan maksiml 30 menit. Idealnya waktu 30 menit ini dibagi menjadi 3 bagian. Gunakan waktu 5 menit untuk melakukan relaksasi dan menetapkan apa tujuan Anda belajar, serta hasil apa yang ingin dicapai. Setelah itu gunakan 20 menit untuk belajar. Sedangkan 5 menit yang tersisa untuk melakukan refleksi atas apa yang baru saja anda pelajari. Lantas bagaimana aplikasi dalam proses pembelajaran? Gunakan waktu 30 menit ini untuk menjelaskan dasar teori suatu materi pelajaran. Setelah 30 menit, gunakan waktu yang tersisa untuk melakukan diskusi atau mengerjakan soal latihan. Jadi, sisa waktu ini untuk menerapkan apa yang dipelajari ke dalam bentuk aplikasi nyata. Bila kita terpaksa harus belajar dalam waktu yang cukup lama, maka kita harus beristirahat selama 5 menit untuk setiap 30 menit belajar. Saat anda istirahat, anda harus benar-benar istirahat. Keluarlah dari ruang belajar, dengarkan music atau sekadar berjalan-jalan. Anda harus benar-benar melepaskan diri dari kegiatan belajar agar bisa mendapatkan penyegaran secara maksimal.
Dalam proses belajar tentu sngat sulit untuk membuat situasi di mana informasi yang kita pelajari sekan-akan sangat menetukan keselamatn hidup kita. Maka cara palin efektif adalah dengn menggunakan informasi tersebut untuk membangkitkan emosi. Diantaranya adalah dengan permainan, menciptakan kondisi belajar yang kondusif, menetpkan tujuan belajar, dan hadiah yang didapat bila tujuan itu tercapai, atau dengan alasan emosial mengapa informasi ini perlu dipelajari.
Itulah sebabnya banyak murid yang terkesan bosan dan sama sekali tidak berminat dengan apa yang dijarkan guru mereka di kelas. Mengapa demikian? Ini karena metode penyampaian informasi itu tidak dpat membangkitkan emosi-emosi yang positif. Dan karena prioritas mempelajari informasi baru sekedar untuk menambah pengetahuan, maka otak sama sekali tidak tertarik.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Kerja Otak (Neuroscience) Dalam Pembelajaran
1.      Kelebihan Neuroscience:
a.       Teori ini mendukung siswa mencapai apa yang diinginkan sesuai pada kemampuan kerja otaknya
b.      Guru sebagai penggubah keberhasilan siswa
c.       Keadaan lingkungan sekitar kondusif

2.      Kelemahan Neuroscience:
a.       Sebagian besar pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada aspek kognitif atau intelektualnya saja dan yang berkembang hanya otak belahan kiri
b.      Siswa pemikirannya konvensional (fikiran yang berasaskan pendapat-pendapat lama yang telah kukuh dan diterima ramai sebelum ini)
c.       Guru kurang membantu siswa (appabila guru kurang memahami teori belajar yang berbeda pada masing-masing siswa) menemukan keinginan belajar, dan kurang mendukung siswa mencapai apa yang mereka inginkan
d.      Keadaan lingkungan kurang kondusif (minimnya fasilitas dan pengetahuan lingkungan masyarakat/orang tua tentang teori belajar neuroscience)

DAFTAR PUSTAKA

http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/17/teori-otak-dan-implikasinya-dalam-pembelajaran/ (Diakses pada tanggal 17 Oktober 2010 pukul 13:25)
 W. Gunawan, Adi. Born to be a Genius. (2005). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Jensen, Erick. Brain Based Theory. (2008). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama







TEORI BELAJAR SOSIO-KULTURAL



TEORI BELAJAR SOSIO-KULTURAL

Pengetahuan dari waktu ke waktu selalu mengalami perkembangan, begitu pula dengan pendidikan. Perkembangan pengetahuan sejalan dengan perkembangan berbagai teori belajar, karena pengetahuan salah satunya diperoleh dengan belajar, sehingga tidak mustahil bermunculan teori-teori belajar antara lain teori belajar koneksionalisme, kondisioning, behaviorisme dan lain-lain, yang masing-masing teori mempunyai kelemahan dan kelebihan.
Belajar merupakan suatu proses yang komplek yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya, baik lingkungan alam maupun sosial budayanya. Dalam proses belajar bila kita hanya mengandalkan paradigma behavioristik maka kita akan mencetak orang-orang yang mengagungkan kekerasan dan mengandalkan keseragaman, tapi tidak menghargai adanya perbedaan. Hal ini terjadi karena siswa harus mempersiapkan diri memasuki era demokrasi yang sebenarnya adalah era yang ditandai dengan keragaman perilaku, adanya penghargaan terhadap sesuatu yang berbeda sehingga perlu adanya perubahan dibidang pendidikan dan pembelajaran dengan teori belajar sosio-kultural.

B.       DASAR TERBENTUKNYA TEORI SOSIO-KULTURAL
Ada 2 tokoh yang mendasari terbentuknya teori belajar sosio-kultural:
1.    Piaget
Piaget berpendapat bahwa belajar ditentukan karena adanya karsa individu artinya pengetahuan berasal dari individu. Siswa berinteraksi dengan lingkungan sosial yaitu teman sebayanya dibanding orang-orang yang lebih dewasa. Penentu utama terjadinya belajar adalah individu yang bersangkutan (siswa) sedangkan lingkungan sosial menjadi faktor sekunder.
Keaktifan siswa menjadi penentu utama dan jaminan kesuksesan belajar, sedangkan penataan kondisi hanya sekedar memudahkan belajar. Perkembangan kognitif merupakan proses genetik yang diikuti adaptasi biologis dengan lingkungan sehingga terjadi ekuilibrasi. Untuk mencapai ekuilibrasi dibutuhkan proses adaptasi (asimilasi dan akomodasi).
Pendekatan kognitif dalam belajar dan pembelajaran yang ditokohi oleh Piaget yang kemudian berkembang dalam aliran kontruktivistik juga masih dirasakan kelemahannya. Teori ini bila dicermati ada beberapa aspek yang dipandang dapat menimbulkan implikasi kotraproduktif dalam kegiatan pembelajaran, karena lebih mencerminkan idiologi individualisme dan gaya belajar sokratik yang lazim dikaitkan dengan budaya barat. pendekatan ini kurang sesuai denga tuntutan revolusi-sosiokultural yang berkembang akhir-akhir ini.
2.    Vygotsky
Jalan pikiran seseorang dapat dimengerti dengan cara menelusuri asal usul tindakan sadarnya dari interaksi sosial (aktivitas dan bahasa yang digunakan) yang dilatari sejarah hidupnya. Peningkatan fungsi-fungsi mental bukan berasal dari individu itu sendiri melainkan berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya.
Kondisi sosial sebagai tempat penyebaran dan pertukaran pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai sosial budaya. Anak-anak memperoleh berbagai pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi sehari-hari baik lingkungan sekolah maupun keluarganya secara aktif. Perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif sesuai dengan teori sosiogenesis yaitu kesadaran berinteraksi dengan lingkungan dimensi sosial yang bersifat primer dan demensi individual bersifat derivatif atau turunan dan sekunder, sehingga teori belajar Vygotsky disebut dengan pendekatan Co-Konstruktivisme artinya perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga ditentukan oleh lingkungan sosial yang aktif pula.
Menurut Vygotsky perkembangan kognisi seorang anak dapat terjadi melalui kolaborasi antar anggota dari satu generasi keluarga dengan yang lainnya. Perkembangan anak terjadi dalam budaya dan terus berkembang sepanjang hidupnya dengan berkolaborasi dengan yang lain. Dari perspektif ini para penganut aliran sosiokultural berpendapat bahwa sangatlah tidak mungkin menilai seseorang tanpa mempertimbangkan orang-orang penting di lingkungannya.
Banyak ahli psikologi perkembangan yang sepaham denga konsep yang diajukan Vygotsky. Teorinya yang menjelaskan tentang potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Ia menekankan bahwa proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran dengan orang–orang yang ada di lingkungan sosialnya. Selain itu ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut.

C.       KONSEP TEORI SOSIO-KULTURAL
Ada 3 konsep penting dalam teori sosiogenesis Vygotsky tentang perkembangan kognitif sesuai dengan revolusi sosiokoltural dalam teori belajar dan pembelajaran yaitu genetic law of development, zona of proximal development dan mediasi.
a.    Hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development)
Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua tataran, yaitu interpsikologis atau intermental dan intrapsikologis atau intramental. Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang. Sedangkan fungsi intramental dipandang sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut.
b.    Zona perkembangan proksimal (zone of proximal development)
Vygotsky membagi perkembangan proksimal (zone of proximal development) ke dalam dua tingkat:
(1) Tingkat perkembangan aktual yang tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri (intramental).
(2) Tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika dibawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten (intermental).
Jarak antara keduanya, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial ini disebut zona perkembangan proksimal. Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada dalam proses pematangan.
c.    Mediasi
Menurut Vygotsky, semua perbuatan atau proses psikologis yang khas manusiawi dimediasikan dengan psychologis tools atau alat-alat psikologis berupa bahasa, tanda dan lambang, atau semiotika.
Ada dua jenis mediasi, yaitu:
(1)   Mediasi metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotik yang bertujuan untuk melakukan self- regulation yang meliputi: self planning, self monitoring, self checking, dan self evaluating. Mediasi metakognitif ini berkembang dalam komunikasi antar pribadi.
(2)   Mediasi kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu atau subject-domain problem. Mediasi kognitif bisa berkaitan dengan konsep spontan (yang bisa salah) dan konsep ilmiah (yang lebih terjamin kebenarannya).


D.      PENGARUH SOSIO-KULTURAL PADA PERKEMBANGAN KOGNISI
a.    Pengaruh sosial pada perkembangan kognisi
Menurut Vygotsky, anak adalah seorang eksplorer yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi, sangat aktif dalam pembelajaran, selalu ingin menemukan sendiri, dan mengembangkan pemahaman baru. Namun demikian Vygostky lebih menekankan pada kontribusi sosial dalam proses perkembangan dan tidak melihat peranan besar dalam penemuan sendiri. Perkembangan pertama dalam lingkup sosial muncul dalam individu sebagai kategori interpsikological dan kemudian pada anak sebagai kategori intrapsikologikal. Contohnya adalah voluntary attention (perhatian otomatis), logical memory (memori logis), pembentukan konsep, dan perkembangan kemampuan memilih.
Vygostky berpendapat bahwa, pembelajaran pada anak terjadi melalui interaksi sosial dengan tutor yang lebih berpengalaman, Tutor ini menjadi model dalam berperilaku atau menyediakan instruksi verbal untuk anak. Model inilah yang disebut dengan dialog kooperatif atau kolaboratif. Anak mencari pemahaman perilaku atau instruksi dari tutor, menginternalisasi informasi dan menggunakannya untuk memformulasikan perilaku mereka.
b.    Pengaruh Budaya pada perkembangan kognisi
Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan harus dilihat dari perspektif 4 tahap yang saling berhubungan dalam interaksi anak dengan lingkungan:
1) Perkembangan Ontogenic, adalah perkembangan individu sepanjang hayat, digunakan oleh hampir semua ahli psikologi dalam menganalisa perkembangan manusia.
2) Perkembangan Microgenic, mengacu pada perubahan yang terjadi pada waktu yang relatif singkat, misalnya perubahan yang dapat dilihat pada saat anak memecahkan masalah penjumlahan pada setiap minggunya selama 11 minggu (Siegler & Jenkins, 1989).
3) Perkembangan Phylogenic adalah perubahan yang berskala evolusi, diukur dalam ribuan dan bahkan jutaan tahun. Vygostsky sendiri berpendapat bahwa untuk pemahaman sejarah spesies dapat memberikan masukan pada perkembangan anak.
4) Perkembangan Sociohistorical, mengacu pada perubahan yang terjadi pada budaya, kepercayaan, norma, dan teknologi.

Disini Vygotsky menekankan bagaimana seseorang berkembang dalam lingkungan yang berubah. Dengan berfokus pada individu atau pun pada lingkungan tidak cukup untuk menjelaskan mengenai perkembangan seseorang. Untuk itu perkembangan sebaiknya dipelajari dari konteks sosial dan budaya.


E.       APLIKASI TEORI SOSIO-KULTURAL
Aplikasi teori sosio-kultural dalam pendidikan. Penerapan teori sosio-kultural dalam pendidikan dapat terjadi pada 3 jenis pendidikan yaitu:
a.    Pendidikan informal (keluarga)
Pendidikan anak dimulai dari lingkungan keluarga, dimana anak pertama kali melihat, memahami, mendapatkan pengetahuan, sikap dari lingkungan keluarganya. Oleh karena itu perkembangan prilaku masing-masing anak akan berbeda manakala berasal dari keluarga yang berbeda, karena faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dalam keluarga beragam, misalnya: tingkat pendidikan orang tua, faktor ekonomi keluarga, keharmonisan dalam keluarga dan sebagainya.


b.    Pendidikan nonformal
Pendidikan nonformal yang berbasis budaya banyak bermunculan untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku pada anak, misalnya kursus membatik. Pendidikan ini diberikan untuk membekali anak hal-hal tradisi yang berkembang di lingkungan sosial masyarakatnya.
c.    Pendidikan formal
Aplikasi teori sosio-kultural pada pendidikan formal dapat dilihat dari beberapa segi antara lain:
1). Kurikulum.
Khususnya untuk pendidikan di Indonesia pemberlakuan kurikulum pendidikan sesuai Peraturan Menteri nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan KTSP, Peraturan Menteri nomor 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi, dan Peraturan Menteri nomor 22 tahun 2006 tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar, jelas bahwa pendidikan di Indonesia memberikan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap kepada anak untuk mempelajari sosio-kultural masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional melalui beberapa mata pelajaran yang telah ditetapkan, di antaranya: pendidikan kewarganegaraan, pengetahuan sosial, muatan lokal, kesenian, dan olah raga.
2). Siswa
Dalam pembelajaran KTSP anak mengalami pembelajaran secara langsung ataupun melalui rekaman. Oleh sebab itu pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap bukan sesuatu yang verbal tetapi anak mengalami pembelajaran secara langsung. Selain itu pembelajaran memberikan kebebasan anak untuk berkembang sesuai bakat, minat, dan lingkungannya pencapaiannya sesuai standar kompetensi yang telah ditetapkan.
3). Guru
Guru bukanlah narasumber segala-galanya, tetapi dalam pembelajaran lebih berperanan sebagai fasilitator, mediator, motivator, evaluator, desainer pembelajaran dan tutor. Masih banyak peran yang lain, oleh karenanya dalam pembelajaran ini peran aktif siswa sangat diharapkan, sedangkan guru membantu perilaku siswa yang belum muncul secara mandiri dalam bentuk pengayaan, remedial pembelajaran.

F.        KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TEORI SOSIO-KULTURAL
Berdasarkan teori Vygotsky akan diperoleh beberapa keuntungan:
1.    Anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang;
2.    Pembelajaran perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya daripada tingkat perkembangan aktualnya;
3.    Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya daripada kemampuan intramental;
4.    Anak diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural yang dapat dilakukan untuk tugas-tugas atau pemecahan masalah;
5.    Proses belajar dan pembelajaran tidak bersifat transferal tetapi lebih merupakan kokonstruksi, yaitu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makna baru secara bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Kelemahan dari teori sosio-kultural yaitu terbatas pada perilaku yang tampak, proses-proses belajar yang kurang tampak seperti pembentukan konsep, belajar dari berbagai sumber belajar, pemecahan masalah dan kemampuan berpikir sukar diamati secara langsung oleh karena itu diteliti oleh para teoriwan perilaku.



KESIMPULAN

         Teori sosio-kultural adalah suatu teori belajar yang mengedepankan adanya suatu interaksi antara seseorang dengan lingkungannya, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial budayanya. Teori belajar sosio-kultural didasari oleh pandangan Piaget dan Vygotsky, namun pandangan yang dianggap lebih mampu menjawab tuntutan revolusi sosio-kultural adalah pandangan yang dikemukakan oleh Vygostky. Ia berpendapat peningkatan fungsi-fungsi mental seseorang terutama berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya dan bukan sekedar dari individu itu sendiri (pendekatan ko-konstruktivisme). Terdapat 3 konsep penting dalam teori sosiogenesis Vygotsky tentang perkembangan kognitif sesuai dengan revolusi sosiokoltural dalam teori belajar dan pembelajaran yaitu genetic law of development, zona of proximal development dan mediasi.
        Guru sebagai tutor yang lebih berpengalaman perlu menyediakan berbagai jenis dan tingkatan bantuan yang dapat memfasilitasi anak untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Bantuan-bantuan tersebut dapat dalam bentuk pemberian contoh-contoh, petunjuk atau pedoman mengerjakan, bagan/alur, langkah-langkah atau prosedur melakukan tugas, pemberian balikan dan sebagainya. Bimbingan atau bantuan dari orang dewasa atau teman yang lebih kompeten sangat efektif untuk meningkatkan produktivitas belajar dan bermanfaat untuk memahami alat-alat semiotik, seperti bahasa, tanda, dan lambang-lambang. Bantuan-bantuan tersebut harus sesuai dengan konteks sosio-kultural atau karakteristik anak.



DAFTAR PUSTAKA
 
Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. PT. Rineka Cipta.
Revolusi Sosio-Kultural. Artikel. [Online] URL:
http://thinktep.smamda.org/2009/01/15/revolusi-sosio-kultural/
http://www.rain-online-business.co.cc/2009/08/teori-belajar-dan-pembelajaran.html
http://wangmuba.com/2009/04/28/perkembangan-kognitif/
http://thinktep.wordpress.com/2009/01/15/revolusi-sosio-kultural/