Belajar

Biasakanlah membaca buku dimanapun kita berada, membaca sangatlah menyenangkan kawan, try it now!.

Diskusi dalam pembelajaran.

Jadikanlah pembelajaran menarik layaknya anak kecil yang bermain.

Taman Pintar Yogyakarta

Salah satu tempat belajar anak di DIY.

World Class University

Universitas Negeri Yogyakarta.

Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Online Learning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Online Learning. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Desember 2012

Integratif Learning Design Framework



Hakekat e-learning adalah bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet. Sistem ini dapat digunakan dalam pendidikan jarak jauh maupun pendidikan konvensional. Mengembangkan model pembelajaran online learning tidak sekedar menyajikan materi pelajaran ke dalam internet tetapi perlu dipertimbangkan secara logis dan senantiasa memegang prinsip pembelajaran.
Proses pembelajaran tersebut lebih pada proses pembelajaran  yang dilakukan secara terpisah, maksudnya disini berarti antara pendidik dan peserta didik tidak berada dalam satu ruangan yang sama bahkan waktunya pun berbeda. Interaksi pendidik dan peserta didik dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, misal dengan melakukan chatting lewat koneksi internet (langsung) maupun dengan berkirim email untuk sekedar mengumpulkan tugas (tidak langsung). Dengan begitu perlu adanya desain pengembangan yang sederhana, personal, cepat, serta unsur hiburan akan menjadikan peserta didik betah belajar di depan internet seolah-olah mereka belajar di dalam kelas.
Saat ini sudah banyak lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi yang sudah mulai merintis dan mengembangkan model pembelajaran berbasis internet dalam mendukung sistem pendidikan konvensional. Namun suatu inovasi selalu saja menimbulkan pro dan kontra.  Oleh karena itu sangat perlu dilakukan kajian, penelitian, dan pengembangan model e-learning. Pada makalah ini akan mengkaji lebih dalam mengenai desain belajar integratif untuk online learning yang lebih dikenal dengan ILDF atau (Integratif Learning Design Framework).
Nada Dabbagh (2005) mendefinisikan belajar online (online learning) sebagai suatu lingkungan pembelajaran yang bersifat terbuka dan terdistribusi yang menggunakan perangkat (tools) pedagogik, yang dimungkinkan dengan penggunaan teknologi web dan internet, untuk memfasilitasi proses belajar dan konstruksi pengetahuan melalui aksi dan interaksi yang bermakna. Online learning sebagai suatu mode penyampaian informasi harus bisa mensinergikan ketiga komponen utama yaitu strategi pembelajaran, teknologi belajar dan model pedagogis. Ketiganya harus disusun dalam kerangka yang integratif dengan tetap memperhatikan konteks sosial dan kultural.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, pengembangan program pembelajaran, termasuk yang bersifat online, harus menerapkan strategi pembelajaran yang tepat dan bersifat menyeluruh, karena memiliki karakteristik lingkungan belajar yang khas, sudah tentu menyebabkan proses pembelajaran secara online membutuhkan teknik dan strategi pembelajaran tersendiri yang berbeda dengan strategi pembelajaran konvensional. Meskipun pembelajaran online menjanjikan sejumlah keuntungan, tentunya hal tersebut tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus melalui proses desain dan strategi implementasi yang tepat.
Bonk dan Reynolds (1997), sebagaimana dikutip oleh Mohammed Ally (2004), mengatakan bahwa untuk mendukung pembelajaran jenis pemikiran tingkat tinggi (high order thinking) melalui web, pembelajaran online harus menyediakan berbagai aktifitas menantang yang memungkinkan pemelajar (learner) mengaitkan informasi baru dan lama, menangkap pengetahuan bermakna, dan menggunakan kemampuan metakognitifnya.
Di sini strategi instruksional, dan bukan sekedar teknologi, memegang peranan penting dalam mempengaruhi kualitas belajar. Lucio Paul Siragosa (2005) dalam disertasi doktoralnya yang berjudul “Identification of Effective Instructional Design Principles and Learning Strategies for Students Studying in Web-based Learning Environment in Higher Education”, mengidentifikasi tujuh area fokus menentukan yang berpengaruh langsung dalam merancang lingkungan belajar online yang efektif. Ketujuh area kunci tersebut adalah: 1) struktur, 2) konten, 3) motivasi, 4) umpan balik/bantuan, 5) interaksi, 6) strategi belajar, dan 7) peran pembelajar (instruktur). Selanjutnya, Siragosa mengutip beberapa strategi pembelajaran yang perlu dipertimbangkan untuk diterapkan dalam pengembangan program pembelajaran online, yaitu: Interaksi (interaction), kolaborasi (collaboration), konstruktivisme (contructivism), eksplorasi, proyek online (online project), belajar berbasis masalah dan studi kasus, belajar dengan pengaturan sendiri, mempertanyakan dan diskusi, simulasi (simulation), serta penilaian (assessment).
Nada Dabbagh (2005), membagi model-model pedagogik, berdasarkan karakteristik pembelajaran yang dimilikinya, menjadi tiga kategori, yaitu: ekploratoris (exploratory), dialogis (dialogic), dan integratif (integrational). Perlu kita ingat bawa pedagogik merupakan ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru, istilah ini merujuk pada penggunaan strategi pembelajaran yang tepat. Lingkungan belajar eksploratoris adalah lingkungan belajar yang dikembangkan dengan konsep dan teori belajar diskoveri (discovery learning) atau belajar berbasis inkuiri (inquiry-based learning). Lingkungan belajar dialogis adalah lingkungan belajar yang menekankan interaksi sosial melalui dialog dan percakapan. Jadi, lingkungan ini bermaksud membangun pengetahuan baru melalui dialog sebagai sebuah bentuk interaksi. Lingkungan belajar integratif adalah lingkungan belajar yang berlandaskan pada kemampuan dan kapabilitas yang dimiliki oleh teknologi pembuat konten (authoring tools) berbasis web yang ada saat ini.
Menurut Nada Dabbagh (2005), model ILDF (Integratif Learning Design Framework ) ini dapat digunakan pada berbagai konteks pembelajaran online, termasuk pengembangan e-course untuk perguruan tinggi, pelatihan di perusahaan (corporate training), komunitas belajar online, ataupun sistem pendukung kinerja elektronis (electronic performance support system). Secara umum, model ILDF ini terdiri dari tiga fase pengembangan atau tiga tahapan, yaitu: fase eksplorasi (exploration), realisasi (enactment), dan evaluasi (evaluation). Namun ada juga yang menambahkan satu tahapan lagi yaitu refleksi.
ILDF lebih pada aliran konstruktivis berbasis desain instruksional model yang menawarkan suatu proses sistematis dalam pengembangan pembelajaran online. Mempertimbangkan pandangan dan masukan dari semua pihak yang terkait dengan proses pembelajaran tersebut mulai dari proses mendesain atau merancang, pengembangan dan implementasi. Produk akhir berdasarkan kebutuhan dan perspektif siswa atau peran semua pihak yang terkait termasuk pengalaman dan epistemologi si pengembang atau desainer.
Model ini termasuk inovasi dalam desain pembelajaran yang khusus dikembangkan untuk proses belajar masa depan dengan belajar berbasis jaringan, yaitu online-learning atau web-based learning yang mengoptimalkan pemanfaatan teknologi telekomunikasi. 
Pada model ILDF diketahui bahwa konteks sosial budaya dimasukan dalam salah satu aspek strategi di dalam pengembangan online learning, hal ini menunjukkan bahwa model ILDF sangat mengapresiasi lingkungan belajar yang bersifat heterogen.
Manfaat model ILDF, yaitu :
1.        Bisa diterapkan untuk penggunaan media digital dan telekomunikasi.
2.     Menjangkau karakteristik peserta didik lebih rinci dibandingkan dengan model-model desain pembelajaran lainnya.
3.       Jika diterapkan secara murni maka sistem penyampaian atau penyajian materi, menjadi lebih menarik.
4.        Menerapkan seluruh komponen disain pembelajaran berbasis KBM lebih jelas.
5.    Untuk penerapan di Indonesia sangat berguna karena telah mencantumkan aspek sosial-budaya yang terinci untuk dijadikan masukan dalam model pembelajaran.

Keterbatasan model ILDF ini adalah :
1.        Karena relatif baru dan ditujukan untuk online learning, maka tidak semua pengajar menyadari adanya model ini.
2.        Penyediaan infrastruktur (ICT) dan perangkat keras relatif masih mahal dan belum terjangkau oleh semua lembaga atau organisasi pendidikan di Indonesia.

Tahapan Eksplorasi
Menyelidiki konteks di mana kegiatan pembelajaran online akan dirancang dan diimplementasikan yang terdiri dari menganalisis :
1.         Kebutuhan guru dan peserta didik
2.         Kesulitan saat mengajar dan belajar
3.         Teori dan strategi instruksional yang digunakan (mengidentifikasi masalah  atau kesenjangan yang ada)
4.         Faktor sosial, budaya dan organisasi yang dapat menjadi kendala dalam desain, pengembangan dan implementasi proses pembelajaran
5.         Kepercayaan, sikap, bias, pengalaman, asumsi, dan filsafat pendidikan perancang pembelajaran tersebut
6.         Literatur review yang tersedia, model pedagogis serta strategi instruksional yang mendukung
Tahapan Enachment :
1.         Semua informasi yang dikumpulkan dalam tahap eksplorasi sebaiknya ditindaklanjuti
2.         Pemilihan alat (ICT) yang baik akan mengatasi kesulitan mengajar dan belajar,
3.         Desain prototipe pembelajaran
Tahapan Evaluasi
1.         Menilai apakah prototipe yang dirancang mudah digunakan oleh pemakai, dan apakah mampu serta relevan untuk mengatasi masalah dalam kegiatan belajar mengajar
2.         Penilaian formatif dalam tahap pengembangan prototipe pembelajaran untuk menilai kekuatan dan kelemahan dari prototipe yang hasilnya digunakan untuk merevisi / menyempurnakan prototipe (untuk meningkatkan efektivitas dan daya tarik), terdiri dari :
a.         Penilaian dari ahli
b.        Penilaian dari setiap pemakai
c.         Penilaian dari kelompok kecil siswa
d.        Sumatif  dilakukan setelah implementasi prototipe tersebut untuk mengukur dampak dari prototipe pada proses pembelajaran
Tahapan Reflection
1.      Berpikir kritis dari pengalaman yang diperoleh di keseluruhan proses mendesain prototipe pembelajaran, terdiri dari : 
a.     Desain model
b.    Pelajaran
c.     Kemungkinan aplikasi dari prototipe pembelajaran
2.      Semua yang dipelajari dan diperoleh dari keseluruhan proses dapat digunakan untuk mendesain ulang pembelajaran yang lebih baik
 (Dabbagh and Bannan-Ritland , 2005)


Kesimpulan
Model ILDF dapat digunakan pada berbagai konteks pembelajaran online, termasuk pengembangan e-course untuk perguruan tinggi, pelatihan di perusahaan, komunitas belajar online, ataupun sistem pendukung kinerja elektronis. Secara umum, model ILDF ini terdiri dari tiga fase pengembangan, yaitu: fase eksplorasi (exploration), realisasi (enactment), dan evaluasi (evaluation). Model ILDF sebagai salah satu inovasi model pembelajaran online learning sangat cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki beragam kebudayaan.

Saran
Sebagai teknolog pendidikan kita harus menguasai berbagai desain pembelajaran termasuk desain pembelajaran secara online yang sering dikenal dengan e-learning. 


DAFTAR PUSTAKA
Ally, Mohammed. Foundation of Educational Theory for Online Learning dalam “Theori and Practice of Online Learning”, Editors: Terry Anderson and Fathi Elloumi, 2004 Athabasca University

Botha, Jean at. al. (2005). “Towards Appropriate Methodologies to Research Interactive
Learning: Using a Design Experiment to Assess a Learning Programme for Complex Thinking” dalam International Journal of Education and Development using Information and Communication Technology (IJEDICT), Vol.1 Issue 2

Dabbagh, Nada. (2005). Online Learning: Concepts, Strategies, and Application. New Jersey: Pearson Education Inc.

Nizamia Volume 12, Nomor 1 Tahun 2009 Model-model pengembangan E-learning dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Muhammad Amin Bakri, Pengembangan Program Pembelajaran Online Berbasis LMS untuk Keterampilan Pemecahan Masalah Di Pt. Indosat Tbk (Jurnal)

Diakses pada 7 Oktober 2012 





Rabu, 12 Desember 2012

Distance Education

Pengertian Belajar Jarak Jauh
Belajar jarak jauh atau disebut juga pendidikan jarak jauh dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi modern dalam kegiatan pembelajaran tanpa kehadiran guru secara langsung. Belajar jarak jauh lebih popular dideskripsikan sebagai belajar melalui telekomunikasi. Secara lebih formal, belajar jarak jauh didefinikan sebagai suatu bentuk cara belajar dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) Terpisah secara fisik; (2) Program pembelajaran terorganisasi; (3) Lebih banyak belajar mandiri; (4) Pebelajar dapat belajr dimana saja; (5) Menggunakan media telekomunikasi; (6) Komunikasi dua arah.

Belajar Jarak Jauh dan Telekomunikasi
Belajar jarak jauh dalam arti yang sangat luas menurut Dabbagh & Ritland (2005), dapat diimplementasikan melalui aplikasi berbagai teknologi, meliputi audio, video, dan computer, atau teknologi digital. Teknologi dalam tiap kategori tersebut membantu interaksi.

Peranan Pendidikan Jarak Jauh
1. Peranan Pebelajar
Pebelajar menjadi lebih terlibat dalam kegiatan belajar, namun tetap menjadi tanggungjawab guru untuk mengorganisasikan pelajaran dan meningkatkan interaksi serta membimbing pebelajar bagaimana berinteraksi dengan secara tepat.
2. Peranan Guru
Agar guru dapat mengadakan pengawasan dan berpartisipasi aktif dalam kaitannya dengan semua program pembelajaran, perlu memperhatikan hal-hal sebagai beriktu: (a) meningkatkan interaksi dengan guru-pebelajar, pebelajar-pebelajar yang lain; (b) Menjawab pertanyaan di tempat manapun; (c) Membantu pemecahan masalah dengan segera; (d) Menyiapkan quiz dan lembar kerja untuk latihan; (e) Bertanggungjawab dalam hal pengoperasian alat dan memecahkan kesulitan peralatan.
3. Peranan Teknologi
Dengaan teknologi untuk BJJ yang menyandarkan pada televisi, atau video, guru perlu merubah keberadaan materi pembelajaran.
Fungsi Komunikasi Pembelajaran
Smaldino (2005) mengemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan: (a) Penyajian informasi; (b) Interaksi guru-pebelajar; (c) Interaksi pebelajar-pebelajar; (d) mengakses sumber-sumber belajar.
Jenis Sistem Telekomunikasi
1. Siaran Radio
Kelebihan dari siaran radio adalah (a) biaya tidak begitu mahal dibandingkan televisi; (b) Mempunyai jangkauan luas; (c) Sangat fleksibel, memiliki efek dramatis terutama untuk cerita, musik, drama, diskusi; (d) Imaginasi yang menonjol karena hanya menggunakan media dengar. Sedangkan kelemahan media ini adalah (a) Siaran radio harus direkam terlebih dahulu; (b) mahalnya operasinya kalau harus merekam terlebih dahulu; (c) Dibutuhkan dukungan naratif yang bagus; (d) Perlu ilustrasi musik dan efek suara untuk menggambarkan suasana.
2. Teleconferensi Audio
Kelebihan dari media ini adalah (a) Biayanya relative murah; (b) Mudah digunakan; (c) Interaktif. Sedangkan kelemahannya adalah (a) Tidak ada informasi visual; (b) Harus memiliki peralatan khusus bila ingin suaranya baik; (c) Kurangnya pengalaman menyebabkan kurang berpartisipasi.
3. Televisi
Kelebihan dari media ini adalah: (a) Ada penampilan visual gerak di samping audio, sehingga bisa memperjelas gambaran; (b) Memungkan pembelajaran interaktif; (c) dapat disiarkan dalam jangkauan yang luas; (d) Informasi segera diterima. Sedangkan kelemahannya adalah (a) Untuk komunikasi dua arah membutuhkan biaya yang lebih banyak; (b) Memerlukan teknisi khusus untuk mengatasi masalah peralatan; (c) Perlu penyusunan skenario khusus pembelajaran; (d) Tidak memiliki hubungan online seperti halnya dengan internet.
4. Teknologi Online
Kelebihan media ini adalah (a) Biaya lebih efisien; (b) memiliki kemampuan audio maupun visual; (c) Komunikasi dua arah; (d) Belajar secara online. Kelemahannya adalah (a) Memerlukan perangkat keras; (b) Memerlukan kelas yang telah diatur untuk itu; (c) Memerlukan teknisi khusus.

teknologi pendukung dikelompokkan ke dalam 2 kategori:
1. PJJ yang Sinkron
Merupakan pembelajaran yang terjadi pada waktu yang sama, meskipun tidak dalam tempat yang sama. Beberapa teknologi pendukung PPJ yang sinkron adalah telepon, speakerphone, conference call, video conferencing, dan internet chat.
2. PJJ yang tidak sinkron
Guru dan pelajar dapat berpartisipasi pada waktu yang berbeda dari lokasi yang sama atau lokasi yang berbeda. Teknologi yang mendukung adalah telepon, faximile, e-mail, konferensi elektronik, kelas web site

sekilas Online Learning

Online learning juga biasa disebut electronic learning merupakan pembelajaran yang disajikan secara elektronik dengan menggunakan computer dan media berbasis computer.
 Saat ini paradigma pembelajaran telah berubah dari teachered centered learning ke student centered learning yang ditandai dengan keaktifan pebelajar dalam proses pembelajaran, dan diasumsikan pebelajar memiliki tanggungjawab atas kegiatan belajarnya sendiri.
Suatu cara yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut yaitu: (1) Mencoba mengajar pebelajar tentang bagaimana belajar yang baik; (2) Mencoba meningkatkan tingkat motivasi pebelajar.

Beberapa kelemahan yang mungkin timbul dalam sistem belajar Online yaitu :
  1. Tingginya kemungkinan gangguan belajar. Hal ini disebabkan karena pendidikan jarak jauh termasuk dalam kategori belajar mandiri, sehingga ada kemungkinan terjadi gangguan selama belajar, ini bergantung pada motivasi masing-masing si belajar. Demikian pula dengan kemungkinan terhentinya program pembelajaran.
  2. Kesulitan mendapat penjelasan pengajar/fasilitator yang sesegera mungkin apabila si pembelajar mendapatkan kesulitan. Si belajar harus menunggu pengajar untuk membuka internetnya.
  3. Pemahaman pembelajar terhadap bahan ajar. Hal ini memungkinkan terjadinya kesalahan visi dan persepsi terhadap tujuan yang ditentukan. Si belajar merasa bahwa dia telah mencapai tujuan pembelajaran, sedangkan pengajar/fasilitator masih menganggap belum tercapai sepenuhnya. Tetapi, kesalahan visi dan persepsi ini dapat ditanggulangi, karena setiap akhir paket pembelajaran diadakan evaluasi dan refleksi.
(http://ferysyifa.tripod.com/ppjonline.htm)
  1. Kurangnya interaksi antara pengajar dan siswa atau antara siswa yang satu dengan yang lain bisa memperlambat terbentuknya pemahaman dalam proses belajar mengajar.
  2. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong aspek bisnis atau komersial.
  3. Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.
  4. Berubahnya peran pengajar dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini dituntut untuk menguasai teknik pembelajaran dengan menggunakan ICT (Information Communication Technology).
  5.  Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
  6. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, dan komputer).
  7. Kurangnya tenaga ahli dalam bidang jaringan internet.
  8. Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
Sedang kelebihan yang dapat timbul dari sistem belajar online adalah
  1. Penggunaan berbagai media. Situs-situs internet kemungkinan dapat berisi berbagai media, termasuk teks, audio, grafik, animasi, video, dan software yang dapat didownload.
  2. Memperoleh informasi yang up-to-date atau terbaru. Dengan E-learning, pengajar dan si belajar dapat memperoleh informasi atau pengetahuan yang terbaru dari internet.
  3. Adanya sistem navigasi. Dengan menggunakan navigasi dengan cara menekan sebuah tombol atau klik mouse maka siswa dapat mencari berbagai dokumen yang ada di berbagai lokasi tanpa harus berpindah dari komputer mereka.
  4. Kenyamanan dalam berkomunikasi. Sistem belajar E-learning memungkinkan siswa lebih aktif dalam berinteraksi dengan pengajar maupun dengan siswa yang lain. Hal ini terjadi karena siswa lebih merasa nyaman dengan komunikasi seperti ini.
  5. Terjadinya pertukaran ide dan pendapat. Hal ini berarti siswa lebih aktif untuk mengeluarkan ide atau pendapat dalam pemilihan materi belajar. Selain itu E-learning juga memungkinkan adanya diskusi lewat dunia maya.
  6. Tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Si belajar dapat menentukan waktu kapan saja yang cocok digunakan untuk belajar. Biasanya pengajar mengadakan forum untuk membahas materi yang disampaikan.
  7. Pemilihan materi yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing. Hal ini sangat baik karena dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Seperti diyakini kaum pendidik, bahwa pembelajar akan sangat efektif manakala sesuai dengan keinginan dan kebutuhan peserta didik.
  8. Lebih interaktif. Pembelajaran jarak jauh ini menggunakan berbagai media yang interaktif sehingga lebih menarik perhatian si belajar. (http://ferysyifa.tripod.com/ppjonline.htm)
Pemanfaatan program belajar melalui online learning
Banyak program belajar yang disediakan secara online. Dengan demikian, pebelajar dapat mengakses pelajaran yang mungkin tidak tersedia di sekolah. E-mail dapat dipadukan dan dipakai oleh pebelajar untuk memperoleh informasi, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan di luar dinding sekolah.
Dengan meningkatkannya system teknologi dan komunikasi, sangat mungkin menggunakan computer untuk menghubungkan pebelajar dengan oranglain atau ahli bidang studi di luar kelas. Pengguna internet dapat berkomunikasi dengan orang lain dengan berpartisipasi dalam kelompok diskusi, yang diklasifikasikan ke dalam dua jenis yaitu:
a. Newsgroup (juga disebut chatgroup atau conference);
b. Mailing list (juga disebut listserves)